Opsi-Opsian
Pansus Hak Angket Century punya opsi-opsi. Kita pun sebagai penonton -kalau mau iseng- bisa punya opsi-opsian juga.
Ada 3 opsi untuk penonton menurut saya:
Opsi 1 adalah MENGKRITIK. Dalam opsi ini kita bertugas mengkritik apa yang sedang terjadi di gedung dewan. Mengkritik adalah mengingatkan, mendorong, memberi masukan. Begitu idealnya. Namun sebagai pengkritik kita juga tak bebas dari kritik balik. Kritik itu berbunyi : udahlah gak perlu ngritik orang lain, diri sendiri aja belum benar. Ngurusi diri sendiri aja belum becus. Hmm…
Terus opsi 2 : MENDIAMKAN. Dengan mendiamkan kita tidak terkena tuduhan mencari-cari kesalahan orang lain. Tidak memperparah suasana. Adem. Namun ada kritik juga yang berbunyi: ketidakpedulian atau pengabaian itu lebih parah dari kritikan yang paling pedas sekalipun. Diam identik dengan putus asa, dan kata Arnold di film Terminator 3, marah lebih baik ketimbang putus asa. Diam juga berpotensi amar mungkar (menganjurkan atau membiarkan kemungkaran). Seringkali orang lebih senang dan lebih berhasil jika di marahi dengan omelan dibandingkan dimarahi dengan cara didiamkan/diabaikan.
opsi ke 3: MEMUJI. Ini agak-agak aneh kedengarannya. Apa yang bisa dipuji dari pertunjukan carut marut dan emosional seperti itu? Lobi-lobi atau tawar menawar politik yang membuat masalahnya menjadi kabur dan membuat penonton yang ingin tahu hitam putihnya menjadi bingung. Tapi kita juga bisa melihat lebih positif dengan berkomentar seperti ini : Salut. Demi kepentingan rakyat mereka rela mempermalukan diri sendiri didepan rakyat banyak. merusak imej mereka sendiri. Berteriak sampai sakit leher, dan saling dorong yang kalau jatuh bisa berakibat cidera karena gedung dewan tak bermatras tebal, dan perabotannya pun tak seperti perabot yang ada di OVJ (Opera Van Java). Ada palu asli lho di sana yang kalau digetokkan ke kepala bisa meninggal dunia. Bukankah itu harga yang dibayar mahal? Lagian melihat lebih positif bagus toh? Su’uzon itu dosa toh?
Tapi masih ada pandangan lain yang perlu didengar untuk ke-3 opsi tersebut. Antara lain; seseorang tak harus menjadi manusia suci dululah supaya dianggap sah mengkritik, dan kesalahan memang perlu dicari (bedakan dengan kalimat mencari-cari kesalahan). Itulah pekerjaan para penegak hukum, dan itu pekerjaan yang sangat penting. Btw, ini masukan yang ditujukan untuk pengkritik yang mengkritik pengkritik di opsi 1 tadi *mbulet ya?*
Dan tambahan untuk opsi 2, seseorang yang diam tak selalu abai. Banyak yang talk less do more seperti pesan iklan. Ini diam yang merupakan emas sebenarnya. Dan untuk opsi 3, bagi yang memuji bisa pula bukan karena bijak, bersih hati, dan berbaik sangka. Mungkin juga ada om, tante, bude, pakde, teman, yang juga lagi ikut-ikutan dalam keributan di gedung dewan pada waktu itu sehingga punya ‘kepentingan politis’ untuk membela. Atau paling tidak punya saudara yang berpropesi sama dengan mereka yang ribut-ribut disana? wallahu’alam. Yang ini agak-agak su’uzon. sebaiknya dihindarkan. Agak-agak mengarah ke gosip kacangan ala infotainment.
Ini cuman pembagian iseng doang. Saya sendiri kadang tak tau dengan kecenderungan diri sendiri. Yang jelas saya senang MEMPERHATIKAN. Seru. Itu artinya saya ada perhatian. Dan DIAM yang artinya saya tak memperburuk suasana dan diri sendiri yang punya potensi hipertensi. Dan terakhir, saya TERSENYUM yang menunjukkan bahwa saya tidak ‘marah’ terhadap masalah ini.
Yah, sepertinya keadaan akan semakin parah seandainya saya dengan ‘opsi eklektik’-nya ini ikut-ikutan berada di gedung dewan. Mungkin ada satu dua orang yang seperti saya di sana (memperhatikan, diam, & tersenyum). Mungkin dari kalangan artis, mungkin juga dari………..ah buruk sangka lagi, ‘gosip’ lagi….untung saya cuman rakyat biasa yang cuman bisa nyoblos dan nonton tv doang.


No trackbacks yet.