Tentang Kasus Anand Krishna
Diantara ributnya berita pansus hari ini dan kemarin, saya mencoba mengklik link lain yang menurut saya tak kalah menarik. Yaitu berita pelecehan seksual oleh Anand Krishna terhadap muridnya.
Saya mengenal tulisan-tulisannya waktu masih berkuliah dulu. Sebagian bukunya pernah saya baca dan miliki (namun sekarang pada raib entah kemana). Dan saya menyukai tulisan-tulisannya pada waktu itu. Jernih, kreatif, dan cukup mencerahkan dengan kebijaksanaan yang bisa bersumber dari mana pun. Ditambah lagi dikemas dalam buku kecil tipis dengan bahasa yang mudah dicerna. Praktis dibawa kemana saja.
Dan saat ini, setelah bertahun-tahun tidak lagi membaca tulisan-tulisannya, saya dikagetkan oleh pemberitaan tentang pelecehan seksual tersebut. Bahkan di situs yahoo Indonesia dalam artikel yang berjudul “You Can Give Me ‘Yourself’ Right?” dimuat percakapan ‘mesra’ antara Anand Krishna dan muridnya di situs jejaring sosial facebook.
Jika terbukti benar, mengapa bisa terjadi hal-hal seperti itu? Apakah ‘nyambung’ dengan misi yang berbunyi “untuk menciptakan masyarakat yang berkesadaran”? Anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga didatangi oleh para korban (kenapa mereka yang didatangi ya?) mengatakan bahwa masalahnya akan diselesaikan secara hukum. Jika terbukti bersalah secara hukum, tentu saja harus ditindak.
Di situs detiknews.com, salah satu korban mengatakan bahwa Anand sering berkata mesra terhadap dirinya seperti menganggilnya dengan sebutan angle atau i love you. Anand mengaku bahwa dirinya biasa mengatakan I Love You kepada semua orang. Mungkin itu yang menjadi masalah untuk masyarakat kita di Indonesia. Jika ada seorang cewek cantik dan tak memiliki hubungan saudara mengatakan i love you kepada saya, maka saya akan GR dan berpotensi membuat saya susah tidur karena memikirkannya. Nilai yang berlaku disuatu tempat adalah nilai yang dianut oleh mayoritas yang mendiami tempat tersebut. Menurut saya mayoritas orang Indonesia belum terbiasa untuk mengucapkan i love you kepada semua orang.
Pro dan kontra pasti terjadi. Seingat saya Anand pun pernah berseberangan dengan penulis bertema spiritual lainnya seperti Irmansyah Effendi, seorang pelopor reiki Indonesia. Waktu itu saya membaca ada sebuah buku Anand yang mengkritik dengan keras tulisan dan metode yang disampaikan oleh Irmansyah Effendi. Bisa jadi juga terjadi pertentangan antar pengikut/pembaca fanatik masing-masing.
Sejak dulu saya melihat Anand Krishna sebagai penulis kreatif, berwawasan luas, dan produktif (karena itu saya berharap semoga pelecehan tersebut tidak benar adanya). Saya melihatnya sejajar seperti ketika saya melihat Cak Nun, Komaruddin Hidayat, GM, Mario Teguh, Gede Prama, Y.B. Mangunwijaya (alm.), dan penulis-penulis kawakan lainnya.
Yang disayangkan adalah jika terjadi semacam pengkultusan terhadap diri seseorang. Yang mungkin saja yang terjadi selanjutnya adalah “You Can Give Me ‘Yourself’ Right?” itu tadi. Pengkultusan bisa tertuju pada siapa saja terutama pada tokoh yg dikagumi. Segala yang keluar dari mulut seseorang yang dikultuskan adalah titah yang harus dan dengan senang hati di ‘iya’kan dan dipatuhi apapun itu. Tak ada kritik. Pengkultusan berpotensi membungkam sesuatu yang berharga dalam diri kita. Yaitu sikap kritis dalam melihat dan menilai sesuatu.


No trackbacks yet.