Pada suatu pagi, jam 6.00, saya beserta anak istri pergi ke pasar. Kami berjalan kaki karena lokasinya dekat, kira-kira 30 meter dari rumah. Itung-itung sekalian berolahraga. Karena katanya bejalan kaki 30 menit tiap hari bagus untuk kesehatan.
Dalam perjalanan kami berpapasan dengan dua siswi SMU. Setelah lewat kira-kira 5 meteran saya senyam-senyum sendiri. “Kenapa senyam-senyum? tanya istri heran. “Liat nggak tadi pakaiannya?” kata saya masih dengan senyam-senyum. “Oo..itu” kata istri sambil ikut tersenyum. “Arek sa’iki aneh-aneh (anak sekarang aneh-aneh)” kata istri saya.
Salah satu siswi memakai jilbab dan baju lengan panjang agak ketat, memakai rok panjang dan kombor-kombor sampai mata kaki, serta sabuk yang terihat jelas. Tak ada yg ‘unik’ sampai disini. Biasa. Yang menarik adalah rok yang panjang tadi ternyata dipelorot-pelorotin hingga sabuknya melingkar di pinggul. Bukan di pinggang. Rok yang dikenakanpun jadi terseret-seret di jalan (ngukurnya juga salah kali ya). Sesekali si gadis menarik ke atas roknya agar tetap melingkar di diameter terbesar pinggulnya dan tidak keterusan melorot sehingga tidak kotor jika melewati genangan. Andaikan ada yang iseng, dengan tenaga setara menarik tirai jendela saja sudah bisa membuat rok itu melorot..hehehe. “Arek sa’iki ono’ono’ ae (anak sekarang ada-ada aja)” kata istri saya lagi.
Dulu, dosen saya pernah berkata, waktu sedang mengajar mata kuliah kesmen (kesehatan mental). “Kalau dulu cewek bisa kelihatan CD-nya (celana dalam) dari depan. Sekarang tidak hanya dari depan dari belakangpun bisa kelihatan” kata dosen saya dengan nada menyindir.
“Celengan Ji!” kata teman yang duduk di sebelah saya waktu itu sambil menunjuk teman wanita yang duduk dua bangku di depan saya yang jeansnya ‘melorot’ sehingga cd berwarna merah tua dengan merk terkenal terlihat jelas seolah-olah memang sengaja dipamerkan. Sesekali dia menarik kaosnya ke bawah mungkin agar bisa menutupi cd yang terihat dari belakang tadi. Tapi percuma. Celana model ‘melorot’, tapi ukuran baju pas-pasan. Akibatnya jadi repot sendiri. Membuat diri sendiri dan orang di sekitarnya menjadi tak konsen dengan kuliahnya..hehehe.
Trend sepertinya juga harus sesuai dengan kepribadian. Kalau memang pamalu tak usah repot-repot lah mencoba tampil ‘terbuka’. Kecuali memang niat melakukan behaviour therapy. Awalnya memakai baju ketat, lalu tank top, lalu celana pendek, sampai akhirnya
pe-de untuk mengenakan bikini (saat kepantai atau kolam renang tentunya). Bikinifobia! :D
Lain lagi dengan celana model punk, konon katanya celana punk yang kelewat ketat terpaksa harus di bantu kresek agak tungai kaki bisa masuk (hahaha..yang ini saya liat di komik strip Benny and Mice …ada-ada aja). Beda jika celana tersebut berbahan karet. Mungkin akan mudah masuknya dan akan terlihat seperti penari balet pria atau pemain sirkus.
Ada lagi trend yang merepotkan. Saya pernah melihat dua remaja menggotong sepeda motor cepernya karena melewati polisi tidur (poldur). Kalau seandainya itu mobil, dan tak punya jalan alternaif selain jalan yang ada poldurnya, memang mau nggotong? Setahu saya mobil ceper pantasnya memang cuma di sirkuit balap dan ‘mobil jangkung’ untuk medan offroad, bukan di medan ‘perumahan padat penduduk’. Apa jadinya jika mobil balap berada di dalam perumahan padat penduduk? Bersiaplah untuk menggotong kalau melewati poldur yang tinggi. Apa jadinya jika ‘mobil jangkung’ berada di dalam perumahan padat penduduk? Hati-hatilah disaat parkir.
Bisa saja nanti kolongnya dipakai warga untuk rapat RT atau kenduri..hehehe. Enak.Teduh.
Saya pribadi lebih tertarik melihat tato dan tindik walaupun saya tak punya nyali untuk meng-ada-kannya di badan saya. Pertama, takut jarum. Kedua takut disangka preman. Ketiga, takut istri yang tak suka aneh-aneh. Untuk tato, saya terkadang bisa menemukan desain-desain keren bergaya tribal yang bisa menjadi inspirasi untuk desain. Sedangkan untuk tindik (piercing), saya hanya salut dengan mereka yang berani ekstrim dan rela menyakiti diri sendiri.
Sambil berjalan menuju pasar, istri berkata “gimana ya pa Andin nanti?”.. “Mbuh ma” jawab saya sambil senyum. Kira-kira tahun 2024, kalau panjang umur, saya dan istri berkepala 4 dan Andin kami akan menjadi remaja berusia 15 tahun. Seperti apa nantinya? Rambut ‘gulali’kah? Mohawk?Kribo?rasta? celana ketat? super pendek?Tambalan?Terbalik?Melorot?Robek?
Baju salah ukuran?Kacamata las? Gigi berpenangkal petir?What else?
Ah, Lets trends flows. Banyak juga yang menarik dan tidak berefek merugikan dari ‘kegilaan’ (post)modern. Saya pribadi terkadang bisa menikmati seni konseptual, Musik Undergound (kadang-kadang…kadang juga bikin sakit kuping..hehe), dan terhibur menonton Jackass the movie yang kata istri saya film orang uedan..hahaha. Khusus untuk anak saya, saya cukup yakin anak saya tidak kelewat ‘gila’. Buah jatuh tak jauh dari tempatnya. Itu pelajaran yang saya dapat waktu masih di sekolah dasar :D .
Kalaupun ada trend super aneh nantinya, saya hanya bisa berharap itu tidak melanggar hukum/norma asusila yang berlaku di masyarakat tempat dia tinggal dan tidak merepotkan dirinya sendiri sehingga tidak membuat diri sendiri terlihat blo’on, dan juga tidak merepotkan orang-orang disekitarnya.





April 1, 2009 at 2:32 pm
mungkinanak2 muda malu kalo ndak ikut ngetrend, gengsi gituh :P
April 2, 2009 at 4:19 am
ga usah ngikuti trend yg ga bnr deh
biar aja dibilang kuno
yg pasti tetap di jalan yg benar
April 2, 2009 at 4:56 am
ngintip blog-nya mas
April 3, 2009 at 5:34 am
@DES
Iya sih..wajar kalau anak muda malu kalo nggak ikut tren. Tapi jadi lucu juga kalau ternyata ngikut trend tanpa disadari malah bikin malu diri sendiri…wakakak.
@kejujurancinta
Nggih…terakhir kali denger seperti ini dari eyang dan istri saya…hehehe
@deltapapa
eits…awas salah intip..hehehe. Monggo mas deltapapa.
April 3, 2009 at 9:34 am
hehehe, saya juga suka ‘takjub’ dengan gaya anak2 sekarang. Mengikuti trend sich sah2 saja, tapi kalau sudah sesuatu yg harusnya ‘didalam’ diperlihatkan ya nyleneh juga. Waktu ke jogja saya malah liat siswa SMU berjilbab tapi poni rambutnya disisir kedepan…aneh2 ajah
April 3, 2009 at 4:16 pm
Saya ingin mengajarkan cara berpakaian yang islami kepada anak cucu saya kelak jika sudah titik titik nanti … karena berpakainapun sudah diatur di Al Quran dengan begitu indahnya.
April 16, 2009 at 3:13 am
Kalau lihat gaya ABG yang norak, seperti baju, sepatu, tas, hiasan rambut warna warni dengan penampilan ceria&segar, masih OK lah. Tapi kalau sudah dengan gaya sengaja mempertontonkan CD itu ya membuat ngelus dada. Yo piye meneh mas, lingkungan pergaulan nya kayak begitu. Ortu yang punya anak perempuan seperti kita ini yang dibuat dag dig dug terus. Bagaimana anak kita nanti, ya tanggung jawab kita sebagai orang tua tuh mas :-)
April 16, 2009 at 4:05 am
@Indira
haha…ya gitu deh mbak Indira..namanya juga anak2 ..hieh…tambah tua rasanya kalau ngomong gini..hahaha
@Rindu
Yup, saya percaya kalau itu pilihan ibu bijak :)
@Bundanya Dita
Hihihi…kayaknya karma deh mbak. Dulu kita sama org tua juga bikin mereka deg-degan mikirin kita soalnya.
April 16, 2009 at 11:24 pm
Wahh, tulisannya ringan ning kok mak jleb. Asyik asyik…two thumbs up!
Ada lagi yang belum, Mas : jipon (jilbab poni) dan model polem (poni lempar). Saya suka geli loh, apalagi kalo para remaja pria yang mulai bergaya metroseks..du du du…saya kan jadi deg2an bayangin remajanya Wima dan Willa kelak.
Saya : A, kamu harus siap lho dengan trend yang bakal mempengaruhi Wima dan Willa ntar. Liat tuh si Iam sepupumu. Berponi euy. Kamu kan cukup resisten dengan perubahan, hahaha…
Suami : Iya deh <– pendiem, bo
Saya : Tapi kok aku mulai ngga nyaman ya sama trend? Ngga niat ikut2an pake celana pensil, tas bling2, sepatu/sandal ngiprit nan menyiksa kaki, pake sabuk segede perut gitu? Beda sama 10 tahun yll yang ikut2an pake celana cutbray, kaos ketat, sepatu kapal (yang alasnya tebel tuh lho)
Suami : Berarti kamu sudah menyelesaikan salah satu tugas perkembanganmu, Bu –sambil kedua tangan tetap nge-game–
Saya : ??! Sok teu ah, si aa teh. Emang yang lulusan psikologi siapa?!
*Saya juga protes sama suami yang sepertinya kalem tapi kok ya tahan nonton Jack Ass!! <– bergidik
** Thx untuk komennya di Haruskah Kembali ke Rumah ya
April 16, 2009 at 11:27 pm
Mas, apa ngga sayang nih kalo layar segede ini cuma kepake 40%nya? Tuh sebelah kanan kosong mlompong gitu. Tulisan jadi kecil2 bikin mata thithilen, je.
April 24, 2009 at 7:41 am
Hahaha…ternyata mbak Sanggita lebih ngamatno toh. Sesuatu yang aneh/janggal kadang bisa menarik kadang bisa menggangu emang.
Iya juga ya…kekecilan bikin mata thithilen (apa sih artinya?)…’lahan kosong’ sebelah juga eman gak dimanfaatkan…agkkkhh..nyari2 template lagi dah.:D
May 5, 2009 at 1:26 am
trend emang aneh2 mas…
malah bikin norak.termasuk cara berpakaian yg kadang terlalu dipaksakan.
BTW pkbr nih?masih ingatkah ama diriku?
May 6, 2009 at 11:30 pm
Trend kadang bikin orang menjebak diri sendiri.. ngabisin energi, hehehe :D salam kenal jg mas Ajie.. lg blog walking :)