Suatu Pagi di Perempatan

Suatu pagi, pada saat saya sedang dalam perjalanan menuju ke kantor, terjadi sebuah kemacetan. Walau tak sampai macet total, pikiran saya refleks menduga-duga. Mungkin ada mobil mogok, tabrakan, demo, si Komo lewat (ah jadul!) atau bisa juga pejabat yang (sory) kurang tau diri datang pada saat orang-orang sedang ramai berangkat kerja sehingga merepotkan pengguna jalan lain dan juga polisi yang terpaksa menutup jalan.Ternyata semua dugaan salah. Penyebabnya adalah matinya lampu merah (penamaan yang kurang tepat sebenarnya, kan ada warna lain..kuning..ijo..). Dan celakanya tak ada polisi yang mengatur di perempatan tersebut.

Apa yg terjadi bisa diduga. Kekacauan. Klakson yang bersahut-sahutan dan arah kendaraan yang carut marut karena bergerak seenaknya mencari celah kosong yang bisa dilewati untuk lolos dari macet. Tak ada kata antri, tak ada kesabaran, yang terlihat hampir hanya keegoisan.

Apa yang ada dalam pikiran orang-orang di sana saat itu (termasuk saya)? Entah, saya sendiri berpikir, saya harus bisa melewati kemacetan tersebut kalau tidak ingin terlambat datang kekantor. Karena tak ada yang mengatur, maka setiap celah kosong akan jadi rebutan. Mempersilahkan kendaraan lain melintas di depan kita adalah kerugian, karena akan memakan waktu kita, dan mereka sendiri bisa jadi tak mau peduli dengan kebaikan tersebut. Jadi, ngapain mempersilahkan orang yang tak mau mempersilahkan kita? Begitu kira-kira yang ada dalam pikiran orang-orang saat itu termasuk saya. Memilih sabar mengantri diantara puluhan orang yang sedang berebutan otomatis menempatankan kita pada posisi paling akhir.

Saat itu orang-orang -termasuk saya- bergerak karena uang. Ingin bekerja untuk mendapat uang sehingga waktu adalah uang. Bukankah ini wajar dan bisa terjadi dimana saja?

Apa yang dikatakan Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya egois, kesepakatan bersama/hukum-lah yang membuat manusia menjadi ‘baik’ telah menunjukkan bukti nyata di perempatan itu. Hukum yang mengatur (lampu merah dan polisi) absen, dan manusia jadi egois.

- – – – – -

Jam 5 sore, saya pulang kantor. Saya mampir ke ATM karena istri titip minta diambilkan uang untuk mengurus SIM yang sudah expired. Sedang di dompet saya isinya cuma Rp.23.000 (argh!). Di sana ada 5 orang yang sedang tertib mengantri. Tanpa nomor antrian, tanpa satpam. Dua diantaranya sedang asik membicarakan sesuatu. Seorang tukang parkir sedang bercanda dengan seorang karyawati rumah sakit bersalin yang lokasinya berada didekat ATM tersebut. Suasana tenang dan nyaman. Saya pun betah mengantri diurutan terakhir.

Hobbes tak selalu meyakinkan dan jalanan tanpa diatur memang tempat paling menyebalkan.

    • ruparuparumpi
    • March 24th, 2009

    hauaahahahaha….begitulah, jalanan memang tempatnya orang jadi egois…

  1. jalanan tanpa aturan? hmm.. emang kadang2 suka begituh.. apalagi kalo udah soal adu antara motor dan mobil

  1. No trackbacks yet.