Ultah Darwin
Kaum ateis militan diminta jangan lagi menggunakan teori evolusi sebagai senjata guna menyerang agama sehingga membuat banyak orang berpaling dari agama. Dan untuk mereka yang percaya pada penciptaan diminta untuk juga mengakui berlimpah bukti yang kini ada guna mendukung teori Darwin mengenai bagaimana bumi berkembang dan dalam genetika modern yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
“Tahun ini, kita mesti merayakan prestasi besar Darwin di bidang biologi dan bukan berperang mengenai warisannya sebagai sejenis konsep antiteologi,” kata mereka seperti yang ditulis Kompas 10 Februari 2009.
Suara diatas mungkin mewakili para ilmuwan yang udah ‘eneg’ dengan ribut yang tak berkesudahan antara kaum atheis militan dengan mereka yang percaya terhadap teori penciptaan (siapa saja dan tak hanya dari kalangan umat beragama, atau penganut agama tertentu).
Darwin sendiri bukanlah seorang ateis militan. Konon ia agnostik sampai akhir hayatnya. Agnostik adalah seseorang yang menunda pengambilan keputusan, dengan menyatakan bahwa tidak cukup bukti untuk menegaskan atau menolak adanya Tuhan menurut Bertrand Russell. Jadi berbeda dengan ateis yang dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan tidak ada.
Yang sering kita lupakan adalah, seperti yang di tulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 16 Februari 2009. “Darwin, lelaki pemalu itu, tak ingin membunuh Tuhan”…. Ia seperti layaknya seorang ilmuwan yang menuntut bukti ilmiah dalam meneliti sesuatu hal. Sebuah sikap yang terbuka, tahu keterbatan diri, jujur, mengakui kesalahan & kekurangan, dan menerima koreksi (tentu saja ini kondisi idealnya, dan dalam penerapannya sangat sering tidak seideal itu karena biasanya banyak kepentingan lain dibaliknya).
Toh, akhirnya Darwin tidak memaksakan kalau teori yang dibuatnya adalah kebenaran satu-satunya yang bisa menjelaskan tentang asal muasal kehidupan. Ia sendiri mengakui kalau teorinya bukanlah penjelas segala hal dan masih penuh dengan misteri yang tak terpecahkan. Tak ada sikap angkuh disitu yang justru sering diperlihatkan oleh penentangnya terutama dari kalangan umat beragama.
Suara para ilmuwan diatas mungkin juga sebuah kemuakan akan penyalahgunaan teori yang diciptakan Darwin tersebut. Dulu sudah terjadi penyalahgunaan yang memakan korban, seperti penciptaan ‘ilmu-ilmu palsu’ tentang type-type tersisih dan ras-ras unggul yang berujung pada holocaust pada masa Hitler.
Kalangan beragamapun sepertinya kudu lebih arif. Jangan sampai terjadi lagi kejadian seperti pada tahun 1992 ketika Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman terhadap Gallileo adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma akan merehabilitasi kembali nama Gallileo sebagai ilmuwan. Pernyataan itu terlontar setelah kurang lebih tiga setengah abad! Lama sekali. Betapa percuma kata Goenawan Mohamad.
Saya bukan pembela Darwin. Dan sebagai orang beragama saya hanya mampu berkata “Hanya Tuhan yang tau segalanya”. Dan menyikapi imbauwan para ilmuwan diatas, saya cuma berandai-andai. Jika saya sedang ribut dengan tetangga saya dan saling olok (ngatain setan, turunan monyet, keledai dungu, atau apalah), tiba-tiba ada tetangga lain yang membuka pintu dan berkata “sssttt….jangan ribut…saya sedang bekerja” maka saya memilih diam dan meminta maaf. Lalu mencari pekerjaan lain yang lebih baik dan bermanfaat ketimbang saling olok.
Aji Subhan

setuju, bung.
memang sulit menyelaraskan “kebenaran” agama dan “kebenaran” sains.
mungkin karena wilayah kajiannya beda kali, ya?!
saya jadi ingat ujaran bijak Armahedi Mahzar dalam kata pengantar untuk The Thao of Physics karya Fritjof Capra: “agama tak butuh sains sebagai alat pembuktian, sains tak butuh agama sebagai alat justifikasi; tapi manusia butuh keduanya.”
militansi/fanatisme memang sebuah ekstrim yang semestinya dihindari, dalam hal agama maupun dalam hal sains. butuh kerendahhatian, seperti anda bilang. dan dlm alam-pikir posmodernism-lah mungkin kerendahhatian itu kita dapati, karena posmo menolak klaim-klaim universal/mutlak yang diusung dalam berbagai metanarasi (sains, agama, ideologi, dsb).
salam kenal…
hehehe.. ketemu espito juga tho???
yowes piss atuhh.. capek euy…